Rabu, 30 Juni 2010

Masyarakat Garut Selatan Desak Pemekaran Dipercepat









Masyarakat Kabupaten Garut bagian selatan mendesak pemerintah untuk memekarkan wilayahnya. Hal itu menyusul telah disetujuinya pemekaran oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut pada 9 Juni 2009 lalu.

“Masyarakat sudah tidak sabar menanti pemekaran Garut Selatan,” ujar Ketua Presidium Masyarakat Garut Selatan, Gunawan Undang, Kamis (3/6).

Menurut Gunawan, lamanya proses pemekaran itu diakibatkan oleh sikap pemerintah Jawa Barat. Gubernur dan Dewan provinsi dinilai lebih mengutamakan pemekaran daerah lain dibandingkan Garut, seperti pemekaran Kabupaten Sukabumi, Bogor Barat dan Pangandaran. Padahal, katanya, proses pemekaran ini telah menginjak tahun keenam.

Lambatnya pemekaran ini juga akan menambah apatis masyarakat terhadap pemerintah. Ditambah lagi dengan masih kurangnya pembangunan infrastruktur di daerah selatan, seperti pembangunan jalan.

Selain itu, jarak ibu kota kabupaten dengan masyarakat di daerah selatan cukup jauh dengan jarak rata-rata mencapai 60 kilometer. “Lihat saja ke selatan tidak ada jalan yang bagus apalagi berstatus jalan nasional,” ujarnya.

Karenanya, Gunawan meminta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk segera memanggil Bupati Garut Aceng HM Fikri agar segera melakukan ekspos pemekaran. Selain itu, Dewan juga diminta untuk segera membentuk panitia khusus pemekaran.

Mekanisme rencana pembentukan Kabupaten Garut Selatan telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 yang menyatakan pembentukan suatu daerah harus melalui persetujuan forum Badan Permusyawaratan Desa atau forum kepala desa setempat.

Berdasarkan studi kelayakan tim Universitas Padjajaran Bandung, kata Gunawan, Garut layak untuk dimekarkan. Jumlah 42 kecamatan dan 424 desa di Kabupaten Garut, menyebabkan tidak maksimalnya pelayanan publik dan pembangunan. Oleh karena itu sebanyak 16 kecamatan dengan jumlah penduduk 600.000 jiwa di wilayah selatan layak untuk dimekarkan. “Dengan begitu daerah tertinggal akan semakin berkurang di Indonesia,” ujarnya.

Bupati Garut Aceng HM Fikri mengatakan pemekaran Garut selatan masih dalam proses pembahasan di pemerintah Jawa Barat. Rencana pemekaran ini juga telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2009-2014. “Kita sedang menyiapkan pemekaran ini, apalagi Dewan sudah menyetujuinya,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebagai kabupaten induk, fasilitas untuk persiapan pembentukan Kabupaten Garut selatan akan dilakukan selama dua tahun ke depan. Hal itu dilakukan agar setelah dibentuk kabupaten baru tidak malah menimbulkan kemiskinan. “Efek pemekaran harus kita antisipasi dari sekarang,” ujarnya.

SIGIT ZULMUNIR


Sumber :

http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2010/06/03/brk,20100603-252564,id.html

3 Juni 2010



Sumber Gambar:

> Peta Jawa barat

http://www.bpkp.go.id/unit/Jabar/Peta_administratif_jawa_barat.jpg 

> Peta Garut

http://cisewu.tripod.com/id12.html

> Lanscape Cisewu

http://wicakz.multiply.com/photos/album/104/wicakz_photoworld_maka_tegarlah_seperti_batu_karang

> Kota Cikajang

http://abdidani.files.wordpress.com/2009/09/kec-cikajang11.jpg

> Kebun Teh Cikajang

http://vtrediting.files.wordpress.com/2009/10/perkebunan-teh-21.jpg

> LAPAN Pameungpeuk Luncurkan Roket

http://bagoesnuparenting.blogspot.com/2008_08_01_archive.html

> Pantai Santolo - Pameungpeuk

http://www.wiranurmansyah.com/tag/garut-santolo-pantai-pameungpeuk/

Peta Garut Selatan


View Larger Map

Pantai Rancabuaya Garut Dilirik Sineas


Keindahan serta pemandangan Objek Wisata Pantai Rancabuaya di Kecamatan Bungbulang Garut mulai dilirik para sineas Film Nasional

Menurut salah seorang Sutradara Film Erwan Siregar yang ditemui di sela syuting Film "Safana" di Pantai Rancabuaya. Kamis (14/11) mengatakan pihaknya memilih lokasi di Pantai Rancabuaya Garut sebab Pemandangan serta keindahan Pantai Rancabuaya merupakan tempat menyajikan keindahan alam sangat luar biasa.

Potensi bahari serta pemandangan yang merupakan Implementasi kehidupan masyarakat setempat menjadikan suguhan berbeda di banding dengan wilayah lain.

Dikatakannya produksi film garapannya tersebut yang berisikan pesan moral dimana sangat sesuai dengan pemilihan tempat di pantai Rancabuaya.

Maka dari itu dia berharap dengan ketertarikannya untuk membuat Film layar lebar di wilayah tersebut dapat membawa nama harum salah satu objek wisata kebanggan Kabupaten Garut tersebut.

Ditemui terpisah Ibu Wakil Bupati Garut Ny Ranny Permata Dicky Chandra mengatakan pemilihan Objek Wisata Rancabuaya oleh sineas Film Nasional itu diharapkan dapat menjadi peluang untuk mempromosikan Kabupaten Garut dimata Nasional.

Sehingga keindahan Objek Wisata Garut dapal lebih di kenal agar Potensi Wisata yang ada dapat terus berkembang.(ck-209)


Sumber :

Pelita, dalam :

http://bataviase.co.id/detailberita-10518999.html

15 Januari 2010


Sumber Gambar:

http://pusdiklatgeologi.files.wordpress.com/2009/08/rancabuaya-2.jpg



Pantai Rancabuaya

Objek Wisata Hutan Sancang



Masyarakat tempo dulu cukup arif menggunakan hutan. Hutan sebagai sandaran kehidupan, tempat bertani dan berburu satwa diakui keberadaannya. Bentangan hutan masih lestari sampai puluhan tahun. Mereka tidak sekedar memahami pentingnya hutan untuk ketersediaan air dan udara. Tapi hutan ada dalam hatinya berwujud kepercayaan sakral. Jangankan pohonnya ditebang, beberapa hutan bahkan dilarang dimasuki. Istilah pamali dan hutan larangan cukup ampuh mencegah pembalakan hutan.

Ada semacam keyakinan bahwa roh para raja bersemayam di hutan. Misalnya Prabu Siliwangi yang menjelma menjadi macan putih konon bersemayam di hutan Sancang. Mitologi inilah yang menyebabkan masyarakat tempo dulu menghormati hutan. Tidak semua hutan dibuka dan dimasuki. Banyak hutan besar terlindungi secara alami disebabkan budaya yang dipegang teguh walaupun tanpa aturan tertulis ataupun peraturan daerah seperti sekarang.
Seiring perkembangan jaman, hal itu memang hanya mitos. Sesuatu yang sekedar tahayul dan di luar logika. Namun kemudian timbul pertanyaan di benak kita: Apakah hutan tidak lagi dihormati? Hutan menjadi tak layak dilindungi? Tanahnya dijejak, pohonnya ditebang? Lalu hutan jadi sah untuk dijarah?

Objek wisata hutan Sancang terletak 2 km dari pusat Kecamatan Pameungpeuk, 20 km dari kota Kabupaten Garut dan 180 km dari Bandung. Objek ini dapat dicapai dari dua tempat, yaitu Pameungpeuk dan pantai Cijeruk Indah. Untuk mencapai ke sana, dari Pameungpeuk pengunjung dapat menggunakan bus ke jurusan perkebunan karet Mira-Mare yang rutenya melalui pinggir kawasan dengan tarif Rp. 3.000/orang, atau angkot dengan tarif Rp. 4.000/orang. Apabila menggunakan ojeg, tarifnya Rp. 7.500 dari Pameungpeuk dan Rp. 3.500,- dari pantai Cijeruk Indah.

Bus yang melalui daerah ini hanya 3 bus/ hari. Jalan menunju ke hutan ini adalah kelas jalan kecamatan dan dengan lebar jalan 3 m, dan jalan desa selebar 2,5 m, serta jalan setapak (foot trail) selebar 0,5 m. Pada umumnya kondisi jalan dalam keadaan sedang diperbaiki. Diantaranya dalam kondisi rusak, jalan kelas V sepanjang 75 km dengan kondisi rusak. Jembatan berjumlah 5 buah jembatan beton sepanjang 27 m.

Hutan Sancang merupakan hutan alami, dan terletak di bagian selatan Kabupaten Garut, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya di Desa Sancang Kecamatan Cibalong dan memiliki luas 2.157 ha. Wilayah ini berada di ketinggian 0-3 m di atas permukaan laut. Tebing-tebing curam terdapat di sebagian pesisir pantai, khususnya di daerah sebelah timur yaitu wilayah Karang Gajah.

Hutan yang langsung bersentuhan dengan Samudra Indonesia ini mempunyai temperatur rata-rata 270 C per tahun, dengan suhu antara 170 C-280 C. Material tanahnya berpasir dan tanah gambut di bagian pesisir, sedangkan di daerah yang mempunyai radius 200 m dari garis pantai memiliki material tanah daratan pada umumnya, yaitu tanah hitam berbatu dengan tingkat kestabilan dan daya serap tanah yang cukup baik.

Kondisi lingkungan wilayah Hutan Sancang termasuk ke dalam kategori bentang alam yang baik dan menarik serta unik. Hutan Sancang juga merupakan cagar alam yang dilindungi dan memiliki ekosistem hutan tropis. Kualitas lingkungan dan kebersihannya pun masih terjaga, walaupun di bagian timur, yaitu di pesisir pantai, terdapat pondok nelayan yang menetap dan memanfaatkan lahan di area konservasi ini.

Di hutan ini tidak terdapat pencemaran (air, tanah, udara, sampah atau vandalisme), akan tetapi sering terjadi penebangan liar, perambahan hutan dan penjarahan/pencurian kayu, khususnya kayu meranti merah yang tergolong tumbuhan langka. Perambahan hutan tersebut telah menurunkan tingkat dan kualitas lingkungan Hutan Sancang dan menyebabkan kerusakan yang cukup serius.

Pada saat ini perusakan Cagar Alam Hutan Sancang telah mencapai lebih dari 200 ha. Hal tersebut, juga sangat berpengaruh bagi kelangsungan ekosistem setempat. Apabila dilihat dari segi visabilitas, hutan Sancang memiliki tingkat pandang yang bebas dengan panorama alam yang indah dan eksotis, namun apabila berada di dalam hutannya, maka akan sulit untuk melihat kearah pantai karena susunan tumbuhan/pepohonan di Hutan Sancang sangat rapat.

Daya tarik utama yang terdapat di cagar alam ini adalah hutan yang masih asri dengan ekosistem yang unik dan pemandangan alam indah. Di hutan ini terdapat hutan bakau, sungai, berbagai jenis flora dan fauna, dan gugusan-gugusan batu yang menimbulkan panorama alam yang unik. Flora dominan yang terdapat di Hutan Sancang antara lain pohon ketapang, pohon bakau, tumbuhan Sorea, palahlar (Dipterocarpus spee.div), serta jenis tumbuhan/ flora pantai seperti agar-agar laut (Gracilaria, SP1), trumbu karang (Afluda mutica), paris (Mycrophyllum bracilieneis), kades (Gelidium lam) dan juga flora lain yang beragam jenisnya termasuk pohon meranti merah dan pohon Kaboa (Dipteroearpus gracilis) yang langka. Sedangkan fauna yang dominan di hutan ini antara lain banteng (Bos sonda/cus), macan tutul, monyet, lutung, dan burung merak.

Hutan Sancang yang merupakan salah satu cagar alam di Indonesia yang bertaraf Internasional ini belum tersentuh oleh fasilitas pariwisata secara khusus. Untuk fasilitas penunjang di Hutan Sancang hanya terdapat 1 pos jagawana serta petugas yang berjumlah 180 orang. Untuk aktivitis yang dapat dikembangkan di Hutan ini adalah: tracking, fotografi, menelusuri hutan, penelitian ekosistem alam, memancing, berkemah, dan aktivitas-aktivitas yang tidak merusak dan mengganggu ekosistem hutan.

Adapun mayoritas pengunjung yang datang ke Hutan Sancang ini berasal dari Garut, Bandung dan Jakarta. Landasan hukum kawasan hutan wisata ini ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 116/Um/1959 tanggal 1 Juli dengan luas wilayah laut sekitar 150 ha dan kini dikelola oleh Departemen Kehutanan.

Dulu, selain dikenal keangkerannya. Sancang juga memendam berbagai cerita yang unik. Menurut sumber tradisional, Sancang dahulu kala merupakan wilayah kerajaan. Salah satu penguasanya yang termashur dikenal dengan nama Rakean Sancang. Cerita ini juga didukung oleh beberapa situs purbakala yang diyakini sebagai bekas-bekas peninggalan Kerajaan Sancang.

Hutan Sancang adalah hutan yang dilegendakan sebagai tempat tilem (tempat hilangnya) Prabu Siliwangi. Di hutan ini juga terdapat pohon Kaboa (mirip dengan pohon bakau/Mangrove) yang menurut kepercayaan setempat merupakan penjelmaan para prajurit Pajajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi. Oleh karena itu hutan ini dipercaya sebagai hutan keramat yang memiliki daya magis bagi kalangan masyarakat lokal.

Nama Sancang yang tersusun dari huruf-huruf Sancang dipercaya memiliki arti khusus, yaitu :

S mempunyai arti : Sasakala asal usul carita sesepuh urang-urang sadaya, yang berarti Hutan Sancang merupakan tempat asal usul nenek moyang kita semua. 
A mempunyai arti: Anu luhur tur ngahiang, yang berarti daerah Sancang adalah daerah keramat dan sejak zaman dahulu sudah dikenal.
N mempunyai arti: Nyata sarta talapakuran tah ku aranjeun manusa, yang berarti Hutan Sancang adalah nyata dan perlu untuk dikaji oleh setiap manusia.
C mempunyai arti: Cacandran carita sesepuh urang sadaya, yang berarti Sancang adalah asal usul cerita tentang nenek moyang kita semua.
A yang kedua mempunyai arti: Aya nya carita Pasundan/ Padjajaran, yang berarti asal-mula dari kerajaan Pasundan dan Padjajaran.
N mempunyai arti: Nagri Padjajaran tilas Siliwangi, yang berarti Hutan Sancang merupakan salah satu wilayah negeri Padjajaran peninggalan Siliwangi.
G mempunyai arti: Goib di Sancang Pameungpeuk Garut, yang berarti Hutan Sancang mempunyai cerita gaib dan setiap manusia harus mempercayai hal-hal yang gaib.

Seperti pada kawasan konservasi umumnya, tidak ada sarana pariwisata di hutan ini, baik yang berupa fasilitas akomodasi ataupun rumah makan, tetapi apabila pengunjung ingin bermalam dapat menggunakan fasilitas akomodasi terdekat yang terletak di Kecamatan Pameungpeuk. Untuk fasilitas rumah makan juga terdapat di Kecamatan Pameungpeuk, sekitar 13 km dari pusat pemerintahan kecamatan. 

Namun cerita dari hutan ini yang paling populer tentu saja mitos mengenai harimau (maung) Sancang, atau lebih dikenal sebagai Maung Kajajaden. Cerita tentang Harimau Sancang banyak diyakini bukan cuma isapan jempol. Konon banyak orang yang melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan harimau di hutan tersebut. Menurut cerita itu pula, harimau-harimau di Sancang bukanlah sembarang harimau. Hewan itu konon jelmaan dari Prabu Siliwangi - Raja Pajajaran - serta anak buahnya yang ngahiang (menghilang). Mereka kemudian berubah ujud menjadi harimau karena dikejar-kejar oleh Kian Santang, putera Prabu Siliwangi sendiri, karena tidak mau masuk Islam dan dikhitan.

Banyak orang percaya bahwa harimau-harimau itu bisa berubah ujud kembali menjadi manusia. Manusia jadi-jadian ini sering berkeliaran di sekitar Sancang, bahkan ada di antaranya yang memperistri manusia biasa. Yang membedakannya dengan manusia biasa, manusia harimau ini konon katanya tidak memiliki ruruncang (lekukan di bawah hidung).

Yang jelas, hutan ini memang unik. Banyak dari jenis fauna dan flora yang ditemukan di hutan ini sulit ditemukan di tempat lain. Oleh karena itulah, pemerintah melalui Mentri Kehutanan pada 1978 menetapkan hutan Sancang sebagai hutan konservasi (suaka margasatwa) yang dilindungi. Di hutan ini dulu banyak ditemukan merak, julang, banteng, harimau Jawa, dan kancil. Juga ditemukan pohon reunghas dan kaboa yang disinyalir hanya tumbuh di hutan ini. Konon, jika menjelajahi hutan Sancang dan tidak ingin diganggu harimau, kita harus membawa kayu kaboa sebagai jimat pelindung. Bahkan bisa digunakan untuk memanggil harimau kajajaden, dengan cara diketrukkeun kana taneuh, dimana pun kita berada.

Karena keunikannya pula, hutan ini menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Baik wisatawan yang hendak menikmati keindahan alamnya, maupun wisatawan yang hendak berziarah ke situs-situs purbakala. Sayangnya, keadaan Sancang kini sangat jauh berbeda dengan hutan Sancang yang dulu. Keangkeran hutan ini mulai lenyap seiring dengan banyaknya pepohonan yang ditebang perambah liar. Sebagian lahannya dijadikan ladang pertanian.

Menurut penelitian tahun 2004, hampir setengah dari luas areal hutan Sancang telah hancur. Kekayaan flora dan faunanya banyak yang ikut hilang. Pengunjung jarang menemukan hewan-hewan khas hutan ini karena habitatnya dirusak. Bahkan pernah tersiar kabar banteng sancang sempat ditemukan berkeliaran di perkampungan penduduk. Sancang Ilang dangiang, yang artinya Sancang kehilangan jati dirinya, walaupun upaya-upaya reboisasi terus dilakukan untuk mengembalikan hutan ini seperti keadaannya semula.

Catatan :

Meskipun telah menyisakan pilu, hutan Sancang masih tetap memberikan kenangan yang berharga. 5 jenis primata yang terdapat di pulau Jawa masih dapat kita temukan semuanya di hutan ini. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Lutung Jawa (Trachypitechus auratus), Surili (Presbytis comata), Owa Jawa (Hylobtes moloch) dan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata-primata yang hanya terdapat di pulau Jawa (endemik). Primata-primata endemik cenderung cukup rentan terhadap ancaman yang terjadi pada habitatnya. Sehingga diperlukan juga perlindungan terhadap habitatnya. (http://agungsmail.wordpress.com/2008/10/page/4/)


Sumber :

 Dr Rochajat Harun Med

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&jd=Objek+Wisata+Hutan+Sancang&dn=20090227095940

27 Februari 2009


Sumber Gambar:

http://agungsmail.files.wordpress.com/2008/10/lokasi-primata-di-sancang2.jpg

http://sunda.garutkab.go.id/pub/static_menu/detail/sekilas_garut_kini



Komoditi Penambangan Rakyat Sepanjang Pantai Pameungpeuk


Pantai selatan Kabupaten Garut yang berhadapan dengan Samudera Hindia, kekayaan laut, dan pantai, sangat beraneka ragam yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan serta dapat mendatangkan keuntungan bagi daerah disekitarnya antara lain pasir besi, bahan galian, rumput laut, dan kerang.

Potensi alam yang berasal dari laut dan pantai di Perairan Pameungpeuk belum dapat diolah sepenuhnya, diperkirakan baru 15% karena belum didukung oleh berbagai sarana. Panjang pantai selatan Kabupaten Garut sekitar 72 kilometer yang terdiri dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Pakenjeng, Bungbulang, dan Caringin.

Dalam perkembangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kabupaten Garut Cilauteureun merupakan sentra dari keempat Tempat Pendaratan Ikan (TPI) yang tersebar di pantai selatan Garut dengan jumlah armada penangkapan motor (KM) 15 unit, motor tempel 168 unit dan perahu tanpa motor 13 unit. Selain TPI Cilauteueureun terdapat pula TPI Cimari, Rancabuaya dan Sancang (diluar daerah selidikan).


Latar Belakang

Pantai selatan Kabupaten Garut yang berhadapan dengan Samudera Hindia, kekayaan laut, dan pantai, sangat beraneka ragam yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan serta dapat mendatangkan keuntungan bagi daerah disekitarnya antara lain pasir besi, bahan galian, rumput laut, dan kerang. 

Potensi alam yang berasal dari laut dan pantai di Perairan Pameungpeuk belum dapat diolah sepenuhnya, diperkirakan baru 15% karena belum didukung oleh berbagai sarana. Panjang pantai selatan Kabupaten Garut sekitar 72 kilometer yang terdiri dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Pakenjeng, Bungbulang, dan Caringin. Dalam perkembangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kabupaten Garut Cilauteureun merupakan sentra dari keempat Tempat Pendaratan Ikan (TPI) yang tersebar di pantai selatan Garut dengan jumlah armada penangkapan motor (KM) 15 unit, motor tempel 168 unit dan perahu tanpa motor 13 unit. Selain TPI Cilauteueureun terdapat pula TPI Cimari, Rancabuaya dan Sancang (diluar daerah selidikan).

Tatanan geologi di kawasan pantai selatan umumnya dan wilayah pesisir Perairan Pameungpeuk, Garut Selatan khususnya sangat beragam, di bagian dasar lautnya terdapat palung atau jalur tumbukan antara kerak benua dan kerak samudera yang masih aktif dan memiliki energi gelombang yang cukup besar (Alzwar, M., 1992). Sesuai dengan informasi yang telah disampaikan oleh BAPPEDA TK II Kabupaten Garut tentang salah satu prioritas kebijaksanaan wilayah pesisir Garut Selatan adalah bahan galian, pengembangan sarana Pelabuhan Nelayan serta sektor pariwisata.

Geometri pantai primer selatan Jawa sangat dipengaruhi oleh tatanan struktur geologi regional seperti adanya subduksi (subduction). Pantai curam (cliff/rocky head land, steep-slope beaches), pantai berpasir yang terdiri atas pantai kantong pasir (sandy pocket beaches), pantai Perairan (embayment beaches) merupakan ciri umum pantai selatan Jawa.


Letak dan Luas Daerah Penyelidikan

Letak daerah selidikan secara administratif berada di sekitar Kecamatan Pameungpeuk, Kecamatan Cikelet, Kecamatan Pakenjeng dan Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. Daerah tersebut merupakan perairan terbuka yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Secara geografis berada di dalam koordinat 107°26’ – 107°45’ BT dan 7°28’ – 7°44’ LS.


Metoda Penyelidikan

Pemetaan Geologi sepanjang pantai perairan Pameungpeuk dan sekitarnya yaitu megukur elemen-elemen pantai yang meliputi pengukuran dan pengamatan penampang pantai (beach profile) serta pengambilan contoh sedimen pantai (beach sediment). Berdasarkan ciri relief, litologi dan karakteristik garis pantainya. 

Metoda pemboran tangan dipakai untuk pengambilan contoh tanah guna mendapatkan keterangan mengenai tanah meliputi jenis tanah dan sifat-sifat fisisnya serta untuk mengetahui ketebalan lapisan sedimen di kawasan daratan pantai. Peralatan pemboran tangan yang digunakan merk EIJELKAMP/COBRA terdiri dari : Stang bor, Penyambung, Stang T, Mata Bor Riverside, Mata Bor Edelman, Mata Bor Gut, Mata Bor Spiral, Mata Bor Tabung,


Hasil Penyelidikan.

Kawasan pesisir Perairan Pameungpeuk terdiri atas batuan sedimen tua dimana batuan tersebut bisa digunakan penduduk sebagai komoditi penambangan untuk menambah penghasilan penduduk setempat dan kas daerah. Batuan tersebut berupa breksi dan batugamping serta terumbu karang. Batuan sedimen ini terdapat di bagian barat daerah selidikan, mulai dari Cilayu sampai Cimangke.  

Di bagian daratan pesisir bentang alam yang tersusun oleh batuan sedimen ini terdiri atas perbukitan dengan relief tinggi, kecuali dari Cilauteureun relief rendah. Di daerah pameungpeuk ditemukan batu permata hitam, batugamping, pasir besi titan. Batuan andesit-basalt, sebagai hasil kegiatan gunungapi yang banyak tersebar di daerah ini obsidian, perlit serta tras dan batuapung.

Endapan aluvial berupa pasir lebih dari 80% menempati kawasan pesisir Perairan Pameungpeuk. Pantai berpasir datar yang terbentang mulai dari pantai Cilauteureun menerus sampai Citanggaleun hingga Cilayu. Endapan aluvial ini terdiri atas pedataran (coastal plan) ber-resistensi rendah terhadap abrasi, dan pantai lurus (long beaches) dengan kemiringan (beach slope) antara 50 hingga 200. Pasir besi titan, sebagai endapan pantai tersebar di daerah Pameungpeuk sampai Bungbulang Selatan, Selain itu pasir sedimennya banyak mengandung magnetit, ilmenit dan pirit sebagai hasil sulfidisasi sebagai akibat terobosan batuan diorit kuarsa.

Gumuk pasir merupakan produk dari rezime angin (media), Ada 3 faktor yang mempengaruhi terbentuknya gumuk pasir:

•Material pasir yang cukup
•Media angin yang berenergi cukup
•Fetch yaitu jarak yang dibutuhkan oleh angin untuk mencapai energi maksimum pembentukan gumuk, dalam hal ini jarak tersebut merupakan dataran pasir yang luas.


Pantai dengan gumuk pasirnya lebih dari satu yaitu pada lokasi Darmaga dan Sayangheulang memanjang dari Sungai Cipelebuh sampai Sayang heulang, sehingga telah terjadi beberapa kali pengendapan gumuk pasir. Gumukpasir di Sayang heulang dari hasil pengukuran penampang mempunyai lebar 420 meter dengan tinggi gumuk pasir 28 meter dan 26 meter, sedangkan pengukuran gumuk pasir di Cipelebuh mempunyai lebar 460 meter dengan tinggi bervariasi yaitu 22 meter, 18 meter dan 14 meter. Gumukpasir ini telah ditambang oleh penduduk setempat sebagai pasir urug dan bahan bangunan.

Dari korelasi 13 bor tangan di daerah selidikan dapat diketahui bahwa sedimen pasir di daerah selidikan terdiri dari:

•Pasir hitam, ukuran butir halus-sedang, lepas, mengandung magnetit yang sangat besar (10,318%),. Dengan kedalaman antara 0,65 meter sampai 2 meter, terdapat pada BPM-7, dan BPM-8, Sumber dari batuan adalah Formasi Bentang yang ditransport melalui Sungai Cikarang dan Ciseureuhan.
•Pasir coklat. Ukuran butir pasir sedang-kasar, lepas dengan kandungan magnetit yang sedikit (0,1763%), pecahan cangkang moluska (10%), terdapat pada BPM-1, 2, 3, 4, 9, 10, 12. dengan kedalaman bervariasi antara 1 meter sampai 2 meter, mendominasi hampir seluruh daerah selidikan. Dengan kemungkinan batuan dasar adalah dari formasi Jampang yang terdiri dari breksi andesit dan batugamping yang tertranspor melalui sungai-sungai ke pantai serta pengaruh sedimen laut.
•Pasir putih, ukuran butir sangat halus-halus, lepas mengandung pecahan terumbu karang dan cangkang moluska, terdapat pada 2 lokasi.
•BPM-5 dengan kedalaman 2,5 meter yang diselingi pasir coklat pada kedalaman 80 cm – 120 cm. Sedimen ini berasal dari Formasi Jampang yang dipengaruhi oleh sedimen laut.
Dari korelasi data bor dapat diketahui bahwa pasir mulai dari S. Cipelebuh sampai Rancabuaya dengan kedalaman berkisar antara 60 cm sampai 300 cm, dan secara setempat terdapat singkapan terumbu karang dan breksi. Secara umum terumbu karang terdapat di bawah satuan pasir tetapi dibeberapa tempat pasir terdapat di atas breksi dan terumbu terdapat diantara pasir dan breksi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa breksi tersebut kemungkinan berasal dari formasi andesit tua.


Kesimpulan

Penambangan rakyat yang dijumpai berdasarkan pemetaan sepanjang pantai cukup melimpah yaitu: 
•Di daerah pameungpeuk ditemukan batu permata hitam, batugamping, pasir besi titan.
•Batuan andesit-basalt, sebagai hasil kegiatan gunungapi yang banyak tersebar di daerah ini digunakan untuk keperluan bahan bangunan dan fondasi jalan raya.
•Obsidian dan perlit sebagai bahan industri dan ornamen.
•Tras sebagai endapan hasil pelapukan tuf kaca dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan batako.
•Batuapung sebagai bahan industri atau bangunan.
•Batugamping digunakan penduduk untuk bahan pembuatan kapur.
•Endapan sungai seperti pasir dan lempung terutama dari rombakan batuan vulkanik, untuk bahan bangunan dan pengeras jalan.
•Pirit sebagai hasil sulfidisasi sebagai akibat terobosan batuan diorit kuarsa.
•Pasir besi titan, sebagai endapan pantai tersebar di daerah Pameungpeuk sampai Bungbulang Selatan.


Ucapan Terima Kasih.

Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada K. Budiono, A. Faturrachman, D. Arifin, C. Purwanto, Y. Noviadi, M. Yosi Atas kerjasamanya selama di lapangan sampai selesainya tulisan ini


Daftar Pustaka

Alzwar, M., 1992, Peta Geologi Lembar Pameungeuk, Jawa Barat, PPPG, Bandung
Bemellen, van., 1949. The Geology of Indonesia, Vol. !A. The Hague Marhnus
Nijhuf.
Dolan, R. Hayde,B.P. Hornberger, G. Zieman, 1972, Classification of the Coastal
Environments of the Word.I, The Americas.
Whitten, D.G.A., Brooks, J.R.V., 1982, The Pinguin Dictionary of Geologi, Pinguin Books Ltd., Harmondsworth, Middlesex, England.


Sumber :

 Deny Setiady

http://www.mgi.esdm.go.id/content/komoditi-penambangan-rakyat-sepanjang-pantai-perairan-pameungpeuk-jawa-barat





Pengembangan Objek Wisata Pantai Di Kawasan Wisata Pameungpeuk Garut


Pantai Santolo, Garut memiliki banyak potensi hanya saja kegiatan yang berlangsung di sana relative sama tiap tahunnya " Berperahu, memancing, bermain pasir dan air laut, berziarah ke makam keramat, menikmati keindahan teras merin dan karang laut, melihat aktivitas nelayan, melihat proses pengolahan ikan, dan melihat kegiatan pasar lelang ikan"(maryani dan mokoginta, 2001:7).

Secara administratif Santolo dan Pamengpeuk berada di dua kecamatan, yaitu Kec. Cikelet dan Kec Pameungpeuk dengan luas wilahyahnya 21.643Ha. menurut Junghun klasifikasi iklim termasuk kedalam zona panas dengan ketinggian antara 0- 100 meter di atas permukaan laut. struktur geologi kawasaan wisata di pantai santolo pamengpeuk adalah sesar normal. dan jenis tanah di dominasi oleh jenis tanah Regosol.

Setelah di lakukan pengharkatan untuk Dukungan aspek fisik dan dukungan aspek sosial budaya di ketahui bahwa pengembangan objek wisata di pantai santolo sangat mendukung untuk dikembangkan. begitu juga dengan penilaian terhadap kondisi aksesbilitas, tingkat dukungan terhadap pengembangan objek wisata. hanya saja pada penilaian terhadap kondisi sarana prasarana di pantai santolo mendapat nilai yang rendah atau kurang.

Analisis pengembangan dan pengelolaan objek wisata menggunakan analisis SWOT menghasilkan beberapa arahan :

1. mereleasikan UU konservasi alam terhadap ekosistem mangrove, terumbu karang dan sandune dengan melibatkan masyarkat;
2. memunculkan keunikan dari objek wisata;
3. melakukan pembinaan serta penyuluhan sadar wisata dan pendidikan lingkungan hidup kepada masyarakat;
4. memasang rambu-rambu atau plang peringatan di lokasi-lokasi yang berbahaya;
5. menarik investor untuk menanamkan investasinya;
6. menjadikan kawasan wisata pameungpeuk sebagai daerah tujuan wisata utama di garut selatan;
7. meningkatkan pengelolaan terhadap objek wisata dengan peningkatan profesionalisme dan kualitas sumberdaya manusia pariwisata;
8. pembebasan lahan;
9. pembangunan wisata berdasarkan budaya lokal;
10.penataan sarana prasarana;
11. peningkatan pelayanan terhadap wisatawan;
12. promosi melalui lintas sektoral dan dilakukan dengan berkesinambungan;
13. memberdayakan segala potensi masyarakat.


Sumber :

Dede Sugandi dan Titing Supriatin

http://id.shvoong.com/travel/websites-online-communities/1963638-pengembangan-objek-wisata-pantai-di/


Sumber Gambar:

http://pariwisata.garutkab.go.id/wisata/files/Pantai%20Santolo_5